Para Majikan di Hong Kong Keluhkan Kualitas TKW Asal Indonesia yang Gemar...

Para Majikan di Hong Kong Keluhkan Kualitas TKW Asal Indonesia yang Gemar Selfie

447

Para Majikan di Hong Kong Keluhkan Kualitas TKW Asal Indonesia yang Gemar Selfie

Adanya internet dan sosial media memang sering membuat manusia lupa waktu dan lupa kewajiban.

Seperti yang dikeluhkan oleh para majikan-majikan di Hong Kong yang menggunakan jasa Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia.

Dilansir dari surabmi.com, para majikan tersebut menilai bahwa kualitas kerja pembantunya menurun.

Mereka menduga bahwa menurunnya kualitas kerja pembantunya dikarenakan keseringan selfie ditambah kegemaran mengakses sosial media.

Televisi di Hong Kong bahkan pernah menayangkan keluhan para majikan tersebut, mereka sudah bayar mahal tapi pekerjaan para pembantunya banyak yang tidak beres.

Bahkan beberapa TKW suka menaruh barang kotor di atas mesin cuci.

Lantai dibiarkan kotor dan cucian menumpuk.

Dalam situs surabmi.com yang merupakan situs berita tentang pahlawan devisa Indonesia alias TKI ini mengimbau untuk masyarakat tidak memberi cap negatif pada Tenaga Kerja Indonesia secara keseluruhan.

Peristiwa yang dikeluhkan oleh para majikan di Hong Kong tersebut diharapkan bisa menjadi pelajaran bagi para TKW maupun TKI lainnya.

Bikin Perpustakaan

Tentu saja kisah TKI di Hongkong tak semua negatif.

Ada pula kisah tentang Muntamah, pekerja rumah tangga (PRT) di wilayah Yuen Long, yang menggunakan hasil usahanya untuk membangun perpustakaan atau taman bacaan di desa asalnya.

Di Desa Cendono, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terdapat sebuah taman bacaan bernama Pondok Maos Cendani.

Taman bacaan tersebut  milik Muntamah.

Perempuan berusia 38 tahun ini mulai berangkat ke negeri bekas jajahan Inggris itu sejak masa krisis 1998 silam.

Muntamah menceritakan, saat itu dia mengadu nasib ke Hongkong karena tuntutan ekonomi.

Keluarganya miskin dan sedang didera impitan utang. Sehingga, meski hanya lulusan SD, ia memberanikan diri meninggalkan Tanah Air untuk bekerja di luar negeri.

“Dulu saya sempat bekerja jadi pembantu di sana (Indonesia), upah saya hanya Rp 12.500, makanya, saya nekat ke Hongkong,” katanya seperti dikutip Kompas.com, beberapa waktu lalu.

“Di sini upah saya awalnya juga masih underpay, tapi sekarang sudah standar,” kata Muntamah. (*)

Comment

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY